Skip to content

Catatan Majas, Dicoba Dipersingkat

December 7, 2008

Majas

Majas dibagi menjadi 4 bagian besar, yaitu:

–          Perbandingan

–          Penegasan

–          Pertentangan

–          Sindiran

Jenis-jenis majas perbandingan antara lain:

–          Alegori, ciri-cirinya berupa membandingkan sesuatu menjadi yang lebih panjang. Contoh: Seorang tamu pernikahan ngomong gini sama kedua mempelainya: Saya berharap kalian berdua dapat mengarungi samudra yang penuh dengan ombak ini bersama-sama. (Maksudnya, semoga kalian bisa menjalani kehidupan baru kalian yang penu rintangan bersama-sama.)

–          Litotes, ciri-cirinya berupa menggantikan hal sebenarnya yang ingin dibicarakan dengan hal yang jauh lebih rendah. Contoh: Seorang konglomerat berkata,”Mari, masuklah ke dalam gubukku ini.” (Padahal rumahnya di Pondok Indah)

–          Metafora, yaitu menggantikan hal sebenarnya yang ingin diungkapkan dengan hal lain yang mirip. Misalnya, ada orang yang berkata pada tetangganya,” Di RW sebelah ada air sedanau.” (padahal maksudnya RW sebelah kebanjiran.)

–          Personifikasi, yaitu menganggap bahwa benda selain manusia bersikap seperti manusia. Misalnya, ada orang yang berkata,”Rumah ini telah melihat hal-hal yang tidak pantas.”(padahal kan rumah benda mati, emangnya bisa ngeliat?)

–          Simile, yaitu benda yang ingin kita bicarakan dibandingkan seperti benda lain yang kualitasnya sama. Misalnya, ada orang ngeliat rumah di Pondok Indah,”Rumah itu bagaikan istana seorang raja.”(Rumahnya memang gede banget)

–          Simbolik, yaitu benda yang dibicarakan digantikan dengan benda lain. Misalnya, ada orang lagi joget-joget ga jelas, dikatain,”Kayak cacing kepanasan aja lu!”

Jenis-jenis majas penegasan antara lain:

  • Alusio, ciri-cirinya ada penggunaan peribahasa tapi tidak dijelaskan, atau hanya sebagian, karena hal yang mau dibilang udah jelas dari peribahasa yang sebagian itu. Contohnya, Aaaah, kamu ini, seperti air di daun talas saja.
  • Antitesis, yaitu penggunaan dua kata yang saling berlawanan. Misalnya: tua muda, besar kecil, menang kalah, dll.
  • Klimaks, yaitu penggunaan kata-kata yang semakin lama semakin bersifat besar. Contohnya: Harga yang ditawarkannya beragam, mulai dari satu juta, satu miliar, hingga satu triliun.
  • Antiklimaks, yaitu penggunaan kata-kata yang semakin lama semakin berkurang besarnya. Contohnya: Mulai dari kakekku, bapakku, dan sekarang kakakku tidak pernah mau menerima hadiah dari orang itu.
  • Antonomasia, yaitu mengganti nama orang sesuai dengan ciri-cirinya. Misalnya: Ada orang namanya Lia. Orangnya kurus tinggi. Ama temennya, dipanggil “si kurus”.
  • Eufemisme, yaitu mengganti suatu istilah menjadi lebih halus. Misalnya: Ke WC, diganti jadi ke belakang.
  • Hiperbolisme/hiperbola, yaitu melebih-lebihkan sesuatu.Contohnya: “Tangisannya membanjiri Jakarta.”
  • Metonimia, mirip dengan Antonomasia, tapi yang ini mengganti nama benda. Misalnya: “bebek” untuk motor bebek.
  • Paralelisme, yaitu pengulangan yang terjadi pada PUISI. Dibagi menjadi 2, yaitu Anafora, pengulangan terjadi di depan (sunyi itu emas    sunyi itu kudus    sunyi itu sakral), dan Epifora, pengulangan terjadi di belakang (letaknya di kampung itu    menetap di kampung itu      besar di kampung itu)
  • Pleonasme, yaitu penegasan dengan menggunakan kata yang ngga perlu, karena kata sebelumnya udah jelas. Contohnya: Majulah ke depan! (Yaiyalah, masa’ maju ke belakang)
  • Parafrase, yaitu penegasan dengan cara diuraikan menjadi lebih panjang atau lebih pendek. Misalnya: Dia memiliki burung besi bersayap lebar untuk dirinya sendiri. (Maksudnya, dia punya pesawat pribadi)
  • Repetisi, yaitu pengulangan kata yang berturut-turut pada karangan bebas (PROSA). Misalnya: Rumahmu kotor, bajumu pun kotor. Atau: Sekali merdeka, tetap merdeka.
  • Retoris, yaitu penegasan dengan menggunakan pertanyaan yang ngga perlu dijawab. Misalnya: Di sebuah seminar tentang kekayaan, pembicara bilang,”Apakah Anda ingin kaya?” (Yaiyalah, klo ikt seminar itu pasti pengen kaya)
  • Sinedoke Pars Prototo, yaitu penyebutan sebagian anggota dari objek dengan maksud menyebut seluruh bagian objek. Misalnya: Mana kotak pensilmu? (maksudnya pengen nanya, mana alat-alat tulismu…..)
  • Sinekdoke Totem Proparte, yaitu penyebutan keseluruhan objek dengan maksud menyebut anggota dari objek. Misalnya: Indonesia memenangkan Asian Beach Games 2008. (Padahal, yang menang cuman yang ikutan lomba.)
  • Tautologi, yaitu penegasan dengan menyebutkan sinonim kata yang dipakai. Misalnya: Kita harus merapikan dan membereskan lemari kita.(Padahal merapikan doang udah cukup.)

Jenis-jenis majas pertentangan antara lain:

  1. Anakronisme, yaitu penggunaan pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan setting waktu. Misalnya: Ada sebuah karangan fiksi dengan setting Perang Dunia I. Ada Jendral yang bilang: “Arahkan bom nuklir kita ke arah mereka, dan luncurkan!” Padahal, pas Perang Dunia I kan belum ada roket nuklir.
  2. Kontradiksio In Terminis, yaitu pernyataan yang pertama kali dikeluarkan kemudian dibantah pada pernyataan berikutnya. Misalnya: “Tidak ada yang bisa membawa Indonesia keluar dari keterpurukan, kecuali saya.” Pernyataan “Tidak ada yang bisa membawa Indonesia keluar dari keterpurukan” dibantah dengan pernyataan “kecuali saya”.
  3. Paradoks, yaitu pernyataan dengan kondisi yang berlawanan dengan kondisi di sekitarnya. Misalnya: Di tengah kegembiraan itu, sang penyair merasa prihatin. (Lagi gembira, tapi si penyairnya prihatin.)

Catatan: Beda Paradoks dengan Kontradiksio in Terminis bisa dilihat kalau dikondisikan begini. Pada Paradoks, keadaan yang pada kedua pernyataan terjadi bersama-sama. Seperti contoh yang tadi, orang lain sedang bergembira, sementara si penyair prihatin terjadi secara bersamaan.  Pada Kontradiksio in Terminis,  pernyataan pertama dikeluarkan lebih dahulu, kemudian pernyataan kedua, yang membantah pernyataan pertama, dikeluarkan. Pada contoh tadi, pernyataan “kecuali saya”, yang keluar belakangan,  membantah pernyataannya sendiri, yaitu “tidak ada yang bisa membawa Indonesia keluar dari keterpurukan”, yang keluar duluan.

Jenis-jenis majas sindiran antara lain:

  1. Ironi, yaitu sindiran halus di mana fakta sebenarnya diputarbalikkan, dengan tujuan mengejek, dan tidak ada unsur pernmusuhan di antara dua pihak yang terlibat. Misalnya: Tulisanmu besar sekali, gue harus pakai kaca pembesar buat ngebacanya.
  2. Sarkasme, yaitu penyindiran dengan menggunakan kata-kata yang kasar. Misalnya: Mampus aja lu!
  3. Sinisme, mirip dengan ironi, tapi lebih memiliki unsur kebencian terhadap lawan objek pembicaraan. Misalnya: Ngga usah nyanyi deh lu, suara merdu lu itu bikin sakit telinga aja!

Sumber: Catatan BI Felix, yang didapat dari Bu Maria, yang mendapatnya dari sebuah buku yang judulnya akan ditanyakan lebih lanjut. Dengan tambahan dari “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Uraian Sederhana Tentang Majas”, terbitan penerbit Indonesia Tera.

NB: Maaf tulisannya tidak mengikuti EYD…. Ini dimaksudkan supaya pembuka blog, terutama teman2 dari 9B, lebih mengerti. Karena JELAS masih banyak kekurangan, maka tolong diberi kritik dan saran….

3 Comments leave one →
  1. November 18, 2009 1:52 pm

    Cool !
    Komunikatif bahasanya.. Thx ya artikel nya ^^

    ~ have a nice day

  2. radin permalink
    December 30, 2009 10:20 am

    wah lengkap, daftar rujukannya ada g ya…

    • anubissummoner permalink*
      January 1, 2010 8:14 am

      kan dah gw tulis klo ringkasannya dari catetan gw…yang ngasih guru gw… klo tau juga dah gw masukin kok….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: